Langsung ke konten utama

Dirimu Dan Kisah Dengan Dirinya

Aku ingin mengatakan dengan gamblang, jelas serta lugas semua isi di dalam pikiran dan hatiku. Kala itu saat kita kembali dipertemukan oleh sang waktu. Ketahuilah, ingatan ku seakan hilang sesaat aku. Entah karena melihat senyummu atau karena mata indah itu. Dan sifat manja nan manismu terasa mengalihkan maksud hati. Lagi-lagi diriku selalu saja dibuat tak berdaya oleh segala yang kau punya. Aku selalu mencoba mengelak semua tentang dirimu, namun tetap saja bayangan bersiluet wajahmu merayap masuk dalam pikiranku.
Aku mengirimmu sebuah pesan “Aku menyukai mu” saat pagi datang, “Aku menyayangi mu” pada menjelang siang, serta “Aku mencintai mu” pada malam menjelang kau mengistirahatkan ragamu. Semua pesan itu, aku tunjukan tak lain dan tak bukan untukmu. Aku terus mengulangnya sampai jenuh melanda. Dan kau masih setia bersama diammu. Selalu.
“Aku belum bisa menjawabnya”. Itulah beberapa kalimat mu padaku. Sampai detik terus berganti menit. Menit menuju jam. Jam menjadi hari. Hari berubah minggu. Sampai minggu berlalu bulan. Terhebatnya sampai bulan telah menjadi tahun. Tak terasa sudah satu tahun berlalu. Aku tak kunjung mendapat jawaban. Hanya diam kudapat. Iya diam dan diam saja. Tak pernah ada kata terucap lagi oleh mu. Aku semakin menebak perasaan mu atas diri ku. Sebuah tanda tanya besar terus berada di kepalaku. Sudah lah. Percuma saja. Hatiku serasa bergeming.
Kau bercerita tentang dirinya. Orang yang membuatmu dirimu seakan kembali jatuh hati. Karena masa lalu membuatmu seakan mati rasa akan semua hati. Dan sampai saat ini aku dengan mengingat kisahmu dengan dirinya. Kau tenggelam semakin dalam bersama perasaan mu kepadanya. Dan hal termalangnya, sekarang dirinya sudah larut tenggelam bersama hati lain, dan ternyata bukan dirimu yang dia pilih. Kau seharusnya tahu itu!. Untuk kesekian kalinya aku mengatakan “Kau layak mendapatkan selain dirinya. Yang jauh lebih baik dan menerimamu apa adanya”. Namun tetap saja bebal menjangkiti akal sehat mu.
Dirinya terlalu bodoh atas segala perlakuannya padamu, mungkin dirinya perlu banyak membaca dan mengarungi berbagai perjalanan menyepi sendiri. Sampai dirinya paham benar atas kesalahan yang dia lakukan terhadapmu. Bagiku kesalahan terbesar dirinya yaitu membuat dirimu bersama dengan rasa semu. Rasanya percuma semua kesedihanmu atas dirinya. Kau terus menangisi dirinya dan aku terus mengharapkan dirimu? Luar biasa bukan?, semua orang sepertinya pernah mengalami keadaan seperti apa yang aku rasakan.
Dirinya mengabaikanmu dan sekarang kau bergumul bersama rasa sakit. Hai dirimu yang disana? Mugkin terlalu berlebihan, sepertinya langit dan bumi akan menangis jika tahu kau terus bermesraan dengan lara. Bila kau tetap bersikeras dengan berbagai dalih. Aku juga bersikukuh dengan semua perasaan ku. Biarkan saja aku terus bersama dengan rasa ini. Aku dan kamu bersama-sama dengan perasaan semu, bedanya kau dengan kesemuan dirinya dan aku dengan kesemuan dirimu.

Bila suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan kita kembali. Aku memohon pada-Nya untuk meredam ego bodoh ku. Dan ketika kau memutuskan untuk pergi meninggalkan ku tanpa sebuah isyarat pesan apapun, aku bagai kehilangan pijakan dalam langkah ini. Dirimu layaknya sekumpulan prosa dengan banyak makna indah untuk aku eja pada setiap sore. Apakah kau sebuah jingga yang siap menjadi senja? aku harap benar adanya, untuk berubah menemani diriku saat malam menjemput sepiku, atas dirimu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Mengingat bagian 1

      Semuanya hanya lah sebuah titipan bila bagas memahami semua yang menimpanya pada masa silam dan waktu sekarang. Ucapan dari ayah bagas sangat membekas dalam palung jiwanya. Seorang bapak dengan jiwa besar telah memberinya pelajaran tentang hidup. Mengajari tak ada ketentuan di bumi ini yang tak ada garis titahnya. Baik soal rezeki, jodoh maupun maut. Ketiganya menjadi rahasia semesta hidup. “Gas? untuk menjadi manusia itu sangat sulit, ayah saja belum paripurna menjadi seorang manusia. Mendekati saja belum bisa gas. Masih membutuhkan waktu lama, harus tahan akan semua cibiran atau nyinyiran orang. Berbuat darma kepada siapa pun pasti akan banyak penghalang di hadapan kita. Namun percaya lah setiap perbuatan buruk kepada siapa pun pasti akan menjadi sebuah malapetaka di kemudian hari.” Itu pesan dari sekian banyak wejengan ayah bagas kepada dirinya. Menjadi seorang anak yang dipandang oleh berbagai tingkatan strata masyarakat adalah sebuah kehormatan namun juga seka...

Michella Austin Farero

Pada satu sudut pertemuan tiga jalan di pusat kota, sepuluh blok setelah Au Manoir Saint-Germain des Prés Hotel, lima blok dari rumah sewa tempat ku tinggal yang jarang terjamah atau suatu ketika pernah ramai pada saat kejadian yang membuatku agak takut untuk mengingatnya kembali. Aku memilih rumah sewa ini, tentunya selain karena harga yang bersahabat bagi kantong salah satu penduduk Negara Republik Asia Tenggara. Fungsi lain rumah sewa ku tentunya adalah sebagai benteng penghangat dari suhu rendah di musim dingin serta cukup kuat untuk menghalau amukan badai pada suatu ketika aku mengalaminya. Dan tentunya itu salah satu dari beberapa pengalaman buruk yang pernah ku jumpai saat pertama kali aku minginjakan kaki di negara ini.  Tentunya aku dituntut bekerja lebih giat, untuk memenuhi semua kebutuhan, namun itu lah keputusan yang harus diambil setiap hari kecuali pada hari minggu saat mental dan badanku butuh rehat sejenak. Dan sisi baiknya selain itu, tentunya semua je...

Cerita Satu dan lainnya

       Suatu malam ketiga minggu pertama di awal musim penghujan. Kabut telah turun menyelimuti jalan dengan membawa butiran uap air siap menyapu apa yang dilaluinya. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya seakan memecah kebisuaan malam. Terlihat beberapa manusia bersarung penunggu gubug tengah larut dalam perbincangan mereka. Dari atas atap surau seekor burung gagak seakan memberi pesan dengan suara dan tatapannya mengamati segerombolan manusia yang berada dalam gubug. Di satu rumah dekat surau. Dari kejauhan nampak cahaya remang menyinari salah satu ruangan rumah itu. Disana tengah terjaga seorang anak berumur awal dua puluhan. Seperti setiap malam sebelumnya, ia terlihat penuh khusuk menulis lanjutan cerita. Walau di tengah cahaya remang tak membuatnya bergeming untuk berhenti menulis. Ia seakan hapal beberapa saat lagi ibunya akan datang untuk menegur dan menyuruhnya menyalakan lampu utama kamar. Dan benar saja dugaan Marwan, Ibunya datang “Wan, lampu utama k...