Lamunan bagas berangsur sirna dengan suara riuh mahasiswa di dalam ruang kelas. Tak sampai beberapa detik slamet sudah menepuk pundak bagas lagi. Agar bergegas meninggalkan kelas yang daritadi sudah ribut seperti pasar saja. Ajakan slamet masih tak hiraukan oleh bagas dan kembali lagi dia terdiam dalam lamunnya. Tiba-tiba ponsel di saku kemejanya bergetar seperti ada telfon entah dari siapa.
“Nanti kau susul aku dikantin bu darsinah ya gas, aku pergi duluan saja. Perutku sudah meronta hendak ingin diisi makanan gas. Jangan lupa kesana nanti ya gas?”.
“Iya oke met, aku mau menjawab telfon ini dulu ya”.
Dengan tergesa-gesa dia mengambil ponsel dan di angkatnya sebuah panggilan itu. Rupanya penggilan telfon itu tak lain dan tak bukan dari ibunda tercintanya. Dengan berjalan cepat dia pergi menuju dekat lobi agar suara ibunya terdengar dengan jelas. Ibunya menanyakan bagaimana kabarnya, selama berminggu-minggu tak pernah memberi kabar kepada keluarga di rumah.
“Seperti hilang tertelan bumi dari keluarga saja kau gas”. Seru ibunya kepada bagas. Wajar saja keluarga di rumah mengkhawatirkan dirinya. Apalagi seorang ibu yang kata orang kasihnya sepanjang massa. Dan bagus pun mengamini perkataan itu dalam hatinya. “Ya memang aku sudah salah membiarkan orang rumah khawatir karena perbuatanku sendiri”.
Dengan segala permintaan maaf yang terlontar dari mulut bagas setidaknya bisa membuang keresahan ibunya perihal keadaan anak tersayangnya itu. Ibu mana yang tak sayang pada darah dagingnya sendiri. Ibu mana yang tega bila anak tercintanya tak ada kabar hampir berminggu-minggu. 9 bulan bagas di kandung ibunya. Tentulah sebagai seorang wanita cinta dan kasih sayangnya tulus tak ada duanya. Selama 9 bulan itu lah ibunya membawa beban yang tak dirasanya sebagai beban. Karena semua wanita yakin semua itu bentuk perwujudan pengabdiannya kepada Tuhan. Sudah menjadi kodrat dan ketentuan sasmita bagi semua wanita. Semuanya dipertaruhkan kaum wanita pada masa 9 bulan itu. Tidur tak nyenyak sudah menjadi barang yang biasa, muntah sering terjadi tanpa mengenal waktu dan tempat. Dan puncaknya adalah menahan rasa sakit yang hanya bisa dirasakan oleh kau wanita saja. Dan yang tak bisa ditawar lagi adalah sembari mempertaruhkan nyawanya. Semua itu demi anaknya yang kelak akan menjadi muara terindah semua kasih sayangnya di dunia.
Hanya sebuah kata maaf yang di terus di ulang untuk ibunya. Seperti tak ada kata lain bagi ibunya. Dengan mata yang berkaca-kaca bagas mendengarkan semua tumpuhan rasa terdalam ibunya. Dari waktu kecil bagas memang dekat dengan ibunya. Segala hal apapun dia tumpahkan kepada wanita yang disayanginya itu. Wajar saja rasa penyesalan nampak di wajahnya. Seperti di terjang ombak besar saja dirinya. Sudah terasa sesak saja dadanya menahan rasa bersalah telah membuat ibunya menderita dalam ketidakpastian kabar anaknya.
“Gas, ibu tak pernah melarang dirimu untuk melakukan semua kegiatan kampus ataupun kau bekerja paruh waktu demi sedikit mencukupi hidup mu di sana, namun ibu berpesan tolong lah sempatkan membari kabar ibu di rumah? Sempatkan kau telfon ibu mu ini nak, ibu sudah tak ada teman untuk berkeluh kesah selain bapak dan dirimu gas. Kau anak ku satu-satunya gas”. Kata-kata dari ibunya membuat dirinya semakin larut dalam setiap detiknya. “Gas, kau sendiri yang memutuskan agar uang bulanan dikurangi hampir tiga seperempat jatahnya. Sebagai gantinya kau harus mencari sendiri entah dengan cara apapun yang terpenting halal. Ibu juga bangga dengan keputusanmu namun dilain pihak ibu juga penuh tanya gas? Berapa kali kau makan setiap harinya? atau malah kau hanya sekali makan saja gas? Atau bagaimana dengan pembayaran kost mu setiap bulannya gas, kemudian tugas akhir mu juga pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit jumlah kan?”. Bagas seakan terkunci mulutnya menjawab semua pertanyaan ibunya.
“Ya, bu sekali lagi maafkan bagas bu. Bagas tak ada niatan sedikit pun untuk membuat ibu cemas serta khawatir. Mana ada seorang anak yang tega hati untuk membuat ibunya gelisah bu? Untuk semua pertanyaan ibu tadi bagas hanya bisa menjawab kalau ibu tak usah memikirkan itu semua. Jangan di ambil pusing bu. Disini bagas makan tak pernah kekurangan, pembayaran kost selalu tepat waktu dan untuk soal tugas akhir, bagas ikut proyek dosen bu jadi semua biayanya di tanggung oleh pembimbing bagas bu. Semua ke-khawatiran pada bagas rasanya sudah tak perlu lagi di tanyakan bu”. Mendengarkan jawaban dari anaknya itu, ibu bagas sedikit lega dan bersyukur semua pertanyaannya sudah terjawab meski dia yakin bahwa semua jawaban anaknya itu tak sebenarnya benar. Dia yakin anaknya itu hanya membesarkan hati dirinya saja. Namun memang anaknya itu paling pintar membesarkan hatinya sejak saat kecil sampai sekarang ini.
“Ya syukur lah gas, bila itu jawabannya mu ibu sudah tak perlu mirasaukan apapun lagi” Dengan hati lega seakan terlepas sudah hujaman rasa yang tadi datang kepadanya.
“ Oh iya bu, bagaimana keadaan bapak di rumah bu? Sehat kan beliau disana?”. Kali ini ibunya yang terdiam dengan diringi suara lirih berucap
“ Iya gas sebenarnya niat ibu mengabari kau adalah untuk memberi tahu kabar bapakmu nak”!.
“Memang ada apa dengan bapak bu?” tanya bagas yang kali ini terdengar menerka jawaban ibunya.
“Gas, bapak mu itu 4 hari yang lalu” dengan di iringi isak tangis dari ibunya.
“Bu kenapa bu? kenapa ibu menangis? Bu?”. Bagas seakan menebak bahwa kalau kali ini adalah kabar buruk yang akan disampaikan ibunya perihal keadaan bapaknya.
“Bu kenapa ibu menangis terus? bu? kenapa dengan bapak bu? Bu?”. Namun ibunya hanya terisak dan dengan mata berkaca-kaca bagas juga terdiam dengan tanyanya seakan waktu berjalan dengan sangat lambat atas jawabannya yang akan diterima bagas.
Karena merasa menunggu terlalu lama akhirnya slamet mencari bagas. Dan ternyata dia mendapti bagas dalam keadaan menangis sendu sambil mengenggam ponselnya. Bersambung.
20 Oktober 2017
Komentar
Posting Komentar