Di suatu siang terik saat jam menunjukan angka 13.00. Bagas berjalan menerjang panasnya matahari yang membuat ubun-ubunnya terus berdenyut. Langkahnya seakan lebar untuk bisa sampai tepat waktu karena pada jam 13.50 dia ada sebuah kelas. Memang jarak tempat dia kost dan kampusnya tidak jauh. Namun yang dikhawatirkan oleh dia bukan panas atau pun lainnya, melainkan ada tugas perdana dari dosen yang belum sempat dia kerjakan. Tugasnya tak susah, hanya meringkas sebuah jurnal yang ditulis tangan 1 lembar kertas A4. Bisa jurnal nasional ataupun luar negeri. Namun pesan dosen akan lebih kalau dari luar negeri. Dalam pemilihan judul pun dibebaskan oleh dosen asal jangan melenceng dari disiplin ilmu yang dia pelajari. Dengan nafas terengah dan tubuh seakan bermandikan keringat dia sudah sampai di depan kelas. Masih ada waktu 35 menit baginya untuk mengerjakan pekerjaan kuliahnya.
Dengan cekatan dia mengelurkan selembar kertas A4 yang terlihat sudah banyak tulisan berbaris menjadi sebuah paragrap Tak banyak namun bebannya sedikit terasa ringan karena saat dia pulang setelah bekerja paruh waktu dekat toko swalayan kampus berbegas mencicil tugasnya. Bukannya dia tak mau mengerjakan tugasnya namun letih sudah melanda dirinya dengan hebat. Dia mengerjakan sebisa dan semampunya. Tak apa lah walau hanya 3 paragrap saja yang terpenting aku sudah berusaha walau akhirnya dikalahkan oleh kantuk, ujar dirinya membatin. Dengan cepat dia mengeluarkan sebuah laptopnya sambil membaca dengan seksama untuk dia tulis menjadi sebuah paragrap lagi pada kertas A4.
Sudah berapa menit Bagas asyik dengan tugasnya dan tiba-tiba mendengar sebuah suara yang lembut. Suara yang kerap kali dia ingin dengarkan setiap saatnya. Terlihat lah sebuah sosok dengan suara lembut itu. Dia adalah rani mahasiswa adik tingkatnya itu membuat bagas tak berhenti memandangnya. Mata yang indah dengan senyum manis itu membuat bagas lupa akan tugasnya. Kemudia dengan cepat bagas terkejut saat suara yang akrab mengagetkannya. “Hai jangan melongo begitu gas, lalat sudah akan masuk mulutmu itu. Ayo kerjakan lah tugasmu itu”. Ternyata itu adalah suara slamet. Teman karibnya saat dia masuk kuliah dahulu sampai sekarang ini. “Berisik saja kau met, lamunanku jadi tergangu oleh suara cempreng kau”, balas bagas dengan sedikit kesal. “Ah kamu ini sudah lah jangan pandangi adek rani terus gas, kerjakan saja tugas itu. waktu sudah 15 menit lagi”.
Dengan tergesa-gesa bagas langsung mengingat apa yang akan dia catat saat sebelum rani datang. Dengan sedikit tertawa dan rasa sombong slamet mengatakan bahwa dia sudah mengerjakan tugas dari dosen. “Sombong sekali kau met, biasanya kau hanya baru menulis Nama dan NIM-mu saja” sahut bagas dengan meledek slamet. “Diam kau gas, aku ingin lulus secepatnya, sudah 8 semester lamanya aku kuliah makanya aku harus wisuda, kasian bapak ku di kampung sana” sahut slamet yang agak melototkan matanya. “Tumben sekali kau met, makan apa kau barusan sampai bicaramu seperti seorang motivator yang di TV itu” bagas tertawa dan slamet pun juga ikut tertawa. Mereka berdua terlalut dalam senda gurau di depan kelas.
Waktu sudah tepat menunjukan jam 13.50 siang, tibalah bagi bagas dan slamet memasuki ruang kelas. Dengan berucap syukur akhirnya bagas sudah menyelesaikan tugasnya. Sesaat setelah mereka berdua duduk bagas melihat ke jajaran bangku depan dengan teliti dan seksama dia melihat ke arah rani. Hanya diam dan penuh takjub dia kepada rani. Sosok adik kelas yang cantik, perkataannya lembut dan tingkahnya sopan. “Hey gas, tolong jangan melongo seperti itu, level mu berbeda dengan rani gus. Dia cantik, sopan dan pinter sedangkan kau? kakak kelas yang sudah mengulang mata kuliah ini 2 kali namun tetap belum dapat nilai bagus. malah dua kali mendapat nilai D terus”. Sahut slamet dengan khas jawanya ngapaknya. “Iya met iya, aku sadar dan aku paham met. Tapi apa salahnya kalau aku melihatnya. Rani kan juga ciptaan Tuhan met, cantik lagi. Komplit sekali dia seperti makanan 4 sehat 5 sempurna yah met” jawab bagas sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tahu kau naksir padanya yah gas? jangan bohong kau gas, aku sudah hafal tingkahmu kalau naksir dengan mahasiswi. Apalagi rani gas. Aku juga mau. Hahaha. Tawa slamet membuat seisi kelas melihat dirinya. “Met jaga ketawa mu met, malu aku jadinya sama adik angkatan kita ini, kita disini mengulang mata kuliah met jadi harus tau diri”. Bisik bagas pada slamet. “Ah kau gas berlebihan sekali kau ini, siapa yang tak tahu dirimu gas, kau terkenal di kampus ini. Walau kau tak ganteng juga tapi terkenal kan. Hahaha”. Tawa slamet meledak dan bagus pun terdiam sejenak sambil tersenyum meminta maaf dan menganggukkan kepalanya kepada adik angkatannya karena suara tawa dari slamet. Beberapa detik kemudian slamet terkejut dan terdiam.
Dosen mereka sudah memasuki ruang kelas. Seluruh kelas menjadi hening. Namun mata bagas terus tertuju pada rani dan semakin tenggelam melihatnya. “Gas sudah jangan kau lihat rani terus, itu pak kirno sudah datang, jangan kau banyak tingkah”. Seru slamet mengingatkan bagas dan hanya dengan anggukan saja bagas menjawab bisikan dari slamet. Tanpa disangka rani yang hendak mengeluarkan buku catatannya melihat ke arah belakang dan tanpa sengaja melihat bagas yang duduk di belakang. Bagaikan salah tingkah, rani tersipu saat bagus melayangkan senyum kepadanya. Bagas seakan terbang dengan senyuman rani. “Ya Tuhan senyumannya itu seolah membuat ku jatuh pingsan”. Bisik bagas dalam hatinya. Bagas yang terus saja terngiang dengan senyum rani itu seperti tak berkonsentrasi dalam kelas. Mata dan badan bagas memang di kelas namun pikirannya melayang pada sosok yang bernama rani. Sungguh rani membuat bagas seakan luluh lantak karena sipu senyumnya. Di lain pihak slamet dari tadi terus mengamati tingkah laku bagas penuh keheranan dan sekarang akhirnya menjadi takut karena bagas tersenyum-senyum sendiri.
12 Oktober 2017
Komentar
Posting Komentar