Langsung ke konten utama

Ada apa dengan bagas?

       Disepanjang kuliah pak kirno bagas selalu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah dengan maksud dan tujuan apa slamet terus menebak ada apa gerangan dengan teman karibnya itu. Malah sekarang slamet yang menjadi tak konsen duduk dismping bagas. “Eh kau kenapa gas daritadi membuatku takut? Apakah demit kampus ini sudah menjahilimu gas? tanya salamet serius dengan berbisik dan heran. Bagas hanya terus tersenyum seakan tak menggubris pertanyaan slamet. Sikap yang ditunjukan temannya itu malah membuat slamet semakin gusar. “Hey pohon sengon, kalau kau tak berhenti tersenyum sendiri nanti aku akan berubah menjadi pohon jati?! seloroh slamet yang sudah kadung terbakar emosinya dengan tambahan gerakan mengeplak kepala bagas. “Iya met aku sudah tak tersenyum sendiri lagi, kau jangan berubah menjadi pohon jati. Jadi pohon randu saja lebih baik met” seloroh bagas dengan tertawa kecil namun sangat dalam dirasakan slamet. Dan slamet juga tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tak menarik perhatian pak kirno. 

       Sudah hampir 20 menit kelas dimulia namun belum ada tanda-tanda tugas merangkum untuk di kumpulkan tanya bagas kepadanya slamet. “Barangkali pak kirno sedang asyik memberikan materinya gas. Jadi lupa dengan tugas yang beliau berikan”. Sikap mereka berdua sudah menjadi normal kembali sebagaimana seperti manusia biasa. Tak ada tertawa kecil,bisik-bisikan dan segala gerak-gerik lainnya. Konsentrasi mereka sudah tertuju pada setiap kata dan gestur dari pak kirno. Tak sampai 15 menit kemudian terdengarlah suara yang membuat hati bagas semringah ketika mendengarnya. Ya, suara itu adalah milik rani yang menanyakan kepada pak kirno. “Apakah tugas merangkumnya bisa dikumpulkan sekarang juga pak”?. Pertanyaan itu disambut dengan jawaban iya dari pak kirno sembari menyuruh mahasiswanya mengumpulkan tugas diatas meja. Kesempatan ini digunakan bagus untuk kembali melihat rani dari dekat, setelah rani mengumpulkan tugasnya kemudia dengan sikap sok kerennya bagas melangkah tegap mengumpulkan tugas diatas meja pak kirno.

    Dari sebelum menuju meja pak kirno bagas tersenyum sendiri sambil matanya tak henti memandang rani. Bagaikan gayung menyambut akhrinya rani pun membalas senyuman bagus dengan anggukan dan kemudian senyuman. Sepertinya tersengat listrik rasanya hati bagas senyumannya disambut ramah oleh rani adik angkatannya yang amat dia kagumi sejak dulu. Bagi bagas rani tak tandingannya dan bukan menjadi rahasia umum kalau rani sering menjadi perbincangan dikalangan kaum hawa kampusnya ketika waktu senjang saat dikantin maupun dikostan. Namun bagi bagas rasanya menyukai rani adalah hal yang sangat sulit dia pahami. Kalau pun dia menyukai rani wajar saja. Karena bagaimana pun rani begitu mengagumkan tak hanya dimata bagas namun juga teman mahasiswa lainnya mengamini itu. Di lain pihak juga bagas sadar diri siapa dirinya ini. Seorang mahasiswa tua yang sedang kasmaran dengan adik angkatannya. Dan ternyata bagas adalah 1 diantara banyak mahasiswa yang menyukai rani. Kerap kali di buat tak percaya diri bila di sandingkan dengan mahasiswa yang mendekati rani. “Ada apa dengan ku ini, mungkin senyuman rani kepadaku hanya sebuah rasa penghormatan dan balasan dari senyuman ku kepada kepada kakak angkatannya, dia sudah dikenal ramah kepada siapa saja kan? tak hanya aku yang mengakui semua itu bukan?, jangan terlalu percaya diri gas”. Gumam bagas dalam hatinya ketika duduk disamping slamet.

        Setelah beberapa saat bagas duduk kali ini slamet terheran dengan sikap sahabatnya itu, dia melihat bagas dengan heran dan penuh tanya. Sahabatnya itu sekarang murung seperti mendung di luar kelasnya. Namun kali ini slamet tak menanyakan apa gerangan yang membuatnya  temannya itu murung bagai pohon palem yang habis tersambar petir, seloroh slamet dalam hatinya. Sudah hampir 5 menit menjelang kuliah pak kirno habis sikap bagas tak berubah hanya sesekali menyengir saja ketika slamet bertanya tentang mata kuliah. Dan akhirnya jam kuliah pak kirno sudah selasai dengan berani dan hati-hati slamet menanyakan keadaan bagas yang dari tadi dilanda kemurungan bagai tanpa pernah ada raut gembira. “Gas kenapa dari tadi kau murung saja bagai sehabis ditolak perempuan saja kau?, atau kau sedang sangat lapar gas? Kalau lapar ayo kita ke kantin dahulu, aku yang akan mentraktir kau. Walau harus menulis di buku catatan utang bu kantin darsinah lagi”. Tanya slamet dengan menggoyangkan pundak bagas. Dan tanpa sadar tanya dan gerakan itu telah membuyarkan lamunan bagas.  Bersambung.
14 Oktober  2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Michella Austin Farero

Pada satu sudut pertemuan tiga jalan di pusat kota, sepuluh blok setelah Au Manoir Saint-Germain des Prés Hotel, lima blok dari rumah sewa tempat ku tinggal yang jarang terjamah atau suatu ketika pernah ramai pada saat kejadian yang membuatku agak takut untuk mengingatnya kembali. Aku memilih rumah sewa ini, tentunya selain karena harga yang bersahabat bagi kantong salah satu penduduk Negara Republik Asia Tenggara. Fungsi lain rumah sewa ku tentunya adalah sebagai benteng penghangat dari suhu rendah di musim dingin serta cukup kuat untuk menghalau amukan badai pada suatu ketika aku mengalaminya. Dan tentunya itu salah satu dari beberapa pengalaman buruk yang pernah ku jumpai saat pertama kali aku minginjakan kaki di negara ini.  Tentunya aku dituntut bekerja lebih giat, untuk memenuhi semua kebutuhan, namun itu lah keputusan yang harus diambil setiap hari kecuali pada hari minggu saat mental dan badanku butuh rehat sejenak. Dan sisi baiknya selain itu, tentunya semua je...

Berita Dari Ibu Bagas

       Lamunan bagas berangsur sirna dengan suara riuh mahasiswa di dalam ruang kelas. Tak sampai beberapa detik slamet sudah menepuk pundak bagas lagi. Agar bergegas meninggalkan kelas yang daritadi sudah ribut seperti pasar saja. Ajakan slamet masih tak hiraukan oleh bagas dan kembali lagi dia terdiam dalam lamunnya. Tiba-tiba ponsel di saku kemejanya bergetar seperti ada telfon entah dari siapa.  “Nanti kau susul aku dikantin bu darsinah ya gas, aku pergi duluan saja. Perutku sudah meronta hendak ingin diisi makanan gas. Jangan lupa kesana nanti ya gas?”.  “Iya oke met, aku mau menjawab telfon ini dulu ya”. Dengan tergesa-gesa dia mengambil ponsel dan di angkatnya sebuah panggilan itu. Rupanya penggilan telfon itu tak lain dan tak bukan dari ibunda tercintanya. Dengan berjalan cepat dia pergi menuju dekat lobi agar suara ibunya terdengar dengan jelas. Ibunya menanyakan bagaimana kabarnya, selama berminggu-minggu tak pernah memberi kabar kepada kel...

Cerita Satu dan lainnya

       Suatu malam ketiga minggu pertama di awal musim penghujan. Kabut telah turun menyelimuti jalan dengan membawa butiran uap air siap menyapu apa yang dilaluinya. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya seakan memecah kebisuaan malam. Terlihat beberapa manusia bersarung penunggu gubug tengah larut dalam perbincangan mereka. Dari atas atap surau seekor burung gagak seakan memberi pesan dengan suara dan tatapannya mengamati segerombolan manusia yang berada dalam gubug. Di satu rumah dekat surau. Dari kejauhan nampak cahaya remang menyinari salah satu ruangan rumah itu. Disana tengah terjaga seorang anak berumur awal dua puluhan. Seperti setiap malam sebelumnya, ia terlihat penuh khusuk menulis lanjutan cerita. Walau di tengah cahaya remang tak membuatnya bergeming untuk berhenti menulis. Ia seakan hapal beberapa saat lagi ibunya akan datang untuk menegur dan menyuruhnya menyalakan lampu utama kamar. Dan benar saja dugaan Marwan, Ibunya datang “Wan, lampu utama k...