Langsung ke konten utama

Tanpa Rencana Tuhan Mempertemukan Kita



 Aku masih ingat saat pertama kali mengenalmu. Pada suatu sore saat hujan mengguyur langit kota. Lebat bercampur dengan guntur. Percakapan kita melalui sosial media yang kerap digunakan banyak orang. Dirimu datang menghangatkan dingin hujan sore. Kau dan aku berbaur dalam setiap notifikasi kita. Terasa akrab. Entah memang kau sudah mengenalku lama atau frekuensi hati kita sudah menyatu. Padahal aku dan kau belum menjadi sebuah kisah. Rasanya begitu cepat semua ini berjalan.
Sering kali aku menanyakan arti semua percakapan kita. Kepada hati ini saat datang lamunku? Atau hendak mengistirahtakan mata menuju mimpi singkat ku. Wajah teduh mu selalu muncul tanpa permisi. Rasanya aku ingin disamping mu setiap saatnya. Namun apa daya. Aku hanya seorang pria biasa dengan banyak pengandaian pada hidup ini. Mulut ku hanya bisa mengucap serangkain kata puitis layaknya bagai seorang penyair atau pujangga ulung.
Terlalu dini bila aku menjadi seorang pendamba. Mengingat aku belum tahu bagaimana dirimu, apakah kau sudah mempunyai hati untuk di tempati? Atau aku terlalu percaya diri dengan semua kalimat mengenyangkan hati ini. Nyatanya potretmu kerap datang menyesaki kepala ku. Aku mengenalmu tanpa sebuah rencana ini juga tak mempunyai suatu misi tertentu dalam setiap ketidaksengajaan kita. Kecuali aku telah jatuh hati. Padamu.
Aku sadar siapa aku. Hanya lelaki biasa tak sebanding dengan mereka yang dahulu pernah mengisi hari-hari mu. Juga dirinya. Yang kau banggakan ketika awal kita berbincang. Pada malam saat aku menemuimu. Ku bawakan sebuah coklat. Namun aku percaya bahwa coklat itu kalah manis dengan senyummu. Yang kau sajikan saat malam itu. Aku yakin tak ada perempuan mana pun yang mampu mengalahkan senyuman itu. Aku yakin seyakin-yakinnya. 

Hari terus berlalu. Kau selalu membuat ku bertanya. Sebenarnya apa kedudukan ku dalam tahta tertinggi hatimu? Selama ini aku tak pernah tahu. Atas perasaan kita masing-masing. Biarlah waktu akan menjawabnya kelak. Sampai akhirnya aku tahu siapa aku dalam hatimu. Seketika aku membayangkan dua mata indah dan senyum manis mu. Oh Tuhan, ada apa dengan diriku ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kembali Mengingat bagian 1

      Semuanya hanya lah sebuah titipan bila bagas memahami semua yang menimpanya pada masa silam dan waktu sekarang. Ucapan dari ayah bagas sangat membekas dalam palung jiwanya. Seorang bapak dengan jiwa besar telah memberinya pelajaran tentang hidup. Mengajari tak ada ketentuan di bumi ini yang tak ada garis titahnya. Baik soal rezeki, jodoh maupun maut. Ketiganya menjadi rahasia semesta hidup. “Gas? untuk menjadi manusia itu sangat sulit, ayah saja belum paripurna menjadi seorang manusia. Mendekati saja belum bisa gas. Masih membutuhkan waktu lama, harus tahan akan semua cibiran atau nyinyiran orang. Berbuat darma kepada siapa pun pasti akan banyak penghalang di hadapan kita. Namun percaya lah setiap perbuatan buruk kepada siapa pun pasti akan menjadi sebuah malapetaka di kemudian hari.” Itu pesan dari sekian banyak wejengan ayah bagas kepada dirinya. Menjadi seorang anak yang dipandang oleh berbagai tingkatan strata masyarakat adalah sebuah kehormatan namun juga seka...

Michella Austin Farero

Pada satu sudut pertemuan tiga jalan di pusat kota, sepuluh blok setelah Au Manoir Saint-Germain des Prés Hotel, lima blok dari rumah sewa tempat ku tinggal yang jarang terjamah atau suatu ketika pernah ramai pada saat kejadian yang membuatku agak takut untuk mengingatnya kembali. Aku memilih rumah sewa ini, tentunya selain karena harga yang bersahabat bagi kantong salah satu penduduk Negara Republik Asia Tenggara. Fungsi lain rumah sewa ku tentunya adalah sebagai benteng penghangat dari suhu rendah di musim dingin serta cukup kuat untuk menghalau amukan badai pada suatu ketika aku mengalaminya. Dan tentunya itu salah satu dari beberapa pengalaman buruk yang pernah ku jumpai saat pertama kali aku minginjakan kaki di negara ini.  Tentunya aku dituntut bekerja lebih giat, untuk memenuhi semua kebutuhan, namun itu lah keputusan yang harus diambil setiap hari kecuali pada hari minggu saat mental dan badanku butuh rehat sejenak. Dan sisi baiknya selain itu, tentunya semua je...

Cerita Satu dan lainnya

       Suatu malam ketiga minggu pertama di awal musim penghujan. Kabut telah turun menyelimuti jalan dengan membawa butiran uap air siap menyapu apa yang dilaluinya. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya seakan memecah kebisuaan malam. Terlihat beberapa manusia bersarung penunggu gubug tengah larut dalam perbincangan mereka. Dari atas atap surau seekor burung gagak seakan memberi pesan dengan suara dan tatapannya mengamati segerombolan manusia yang berada dalam gubug. Di satu rumah dekat surau. Dari kejauhan nampak cahaya remang menyinari salah satu ruangan rumah itu. Disana tengah terjaga seorang anak berumur awal dua puluhan. Seperti setiap malam sebelumnya, ia terlihat penuh khusuk menulis lanjutan cerita. Walau di tengah cahaya remang tak membuatnya bergeming untuk berhenti menulis. Ia seakan hapal beberapa saat lagi ibunya akan datang untuk menegur dan menyuruhnya menyalakan lampu utama kamar. Dan benar saja dugaan Marwan, Ibunya datang “Wan, lampu utama k...