Langsung ke konten utama

Semua Dalam Hitungan Singkat Ini

Sekitar 1 tahun, 12 bulan, 48 minggu, 365 hari, 8.760 jam, 525.600 menit dan 31.536.000 detik lamanya menjadi penjabaran hitungan tentang waktu. Aku terus saja gagal memahami. Bagaimana hati ini terus tertuju padamu tanpa sebab, tak berjeda, tak berjengkal dalam angan dan pikiran. Apakah ini candu? Aku mau seseorang yang bisa membebaskan ku. Apakah ini penyakit? Adakah tempat untuk menyembuhkannya? Atau apakah telah sakau? Sampai aku benar-benar bisa sembuh dari ketergantungan? Aku tak tahu pasti. Aku tak tahu adakah yang mampu menolong ku? Apakah ini sebuah wabah yang menyerangku? Jika ini wabah adakah antitoksinnya? Aku mau terbebas. Dengan cara apapun serta harga berapa pun. Akan kubayar? Ahhh.. Ada apa dengan akal sehat dan pikiranku ini.
Rasa ini bererkepanjangan mengendap dalam hatiku, sepertinya sulit ku daur lagi agar endapannya tak menumpuk terus-menerus setiap hari, jam ke jam serta menit sampai kedetik hingga menuju dalam satuan yang terkecil dan aku tak tahu apa namanya itu. Bila ada. Aku mencoba mengingat kembali dengan jelas apa saja dalam setiap satuan itu. Ternyata kau masih berlalu-lalang di benak ku.
Setiap harinya aku semakin tenggelam menyelami dua mata indah dalam senyum manismu. Itu lah senjata andalanmu. Mengapa aku bilang senjata andalanmu? Ya karena memang itu mampu membuat ku bertekuk lutut. Setiap kali aku melihat tawa itu. Aku harus jujur pada perasaan ini. Aku merasa bagai seorang ksatria negeri dongeng yang menjumpai tuan puterinya. Bertopeng wajah garang namun sendu saat mata ini menatap senyummu. Senjata andalanmu membuatku  takluk.
Dalam sebuah pertempuran dasyat aku menjadi kstaria hebat. Semua pertarungan ku menangkan tanpa susah payah. Aku mempunyai mental kuat bagai baja. Yang pada suatu saat berjumpa denganmu. Kau membawa senjata hebat. Yang anehnya kau tak menyadari kau mempunyai itu. Aku mengaku kalah. Kau menaklukkan ku tanpa sebuah perlawanan berarti. Dan tragisnya kau tak merasa memenangkan apapun. Aku tak percaya. Aku sudah kalah. Dengan mudah.
 Aku terus bertanya? mencari tahu apa senjatamu. Hingga aku takluk tak bergeming. Ternyata aku baru menyadarinya. Senjatamu adalah karunia dari sang semesta. Seorang yang terpilih menjadi seorang putri dalam kerajaan hatiku. Sebuah senjata rahasia tak semua sembarang perempuan dapat memilikinya. Kali ini Tuhan telah menegaskan bahwa dirimu pemenang serta penakluk hati ini. Namun aku bergeming “Semoga kau disana mendengar. Ya Tuhan dirinya bukan saja penakluk hati ini. Aku telah luluh dengan semua yang dia punya. Tenggelam begitu dalam. Puncaknya jangkar ini sudah terjatuh. Kapal ini menuju pelabuhan hatimu. Semoga kau berada disana. Harapku. Mengiba padamu. Tuhan."
Gambar dari Textgram

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Michella Austin Farero

Pada satu sudut pertemuan tiga jalan di pusat kota, sepuluh blok setelah Au Manoir Saint-Germain des PrĂ©s Hotel, lima blok dari rumah sewa tempat ku tinggal yang jarang terjamah atau suatu ketika pernah ramai pada saat kejadian yang membuatku agak takut untuk mengingatnya kembali. Aku memilih rumah sewa ini, tentunya selain karena harga yang bersahabat bagi kantong salah satu penduduk Negara Republik Asia Tenggara. Fungsi lain rumah sewa ku tentunya adalah sebagai benteng penghangat dari suhu rendah di musim dingin serta cukup kuat untuk menghalau amukan badai pada suatu ketika aku mengalaminya. Dan tentunya itu salah satu dari beberapa pengalaman buruk yang pernah ku jumpai saat pertama kali aku minginjakan kaki di negara ini.  Tentunya aku dituntut bekerja lebih giat, untuk memenuhi semua kebutuhan, namun itu lah keputusan yang harus diambil setiap hari kecuali pada hari minggu saat mental dan badanku butuh rehat sejenak. Dan sisi baiknya selain itu, tentunya semua je...

Berita Dari Ibu Bagas

       Lamunan bagas berangsur sirna dengan suara riuh mahasiswa di dalam ruang kelas. Tak sampai beberapa detik slamet sudah menepuk pundak bagas lagi. Agar bergegas meninggalkan kelas yang daritadi sudah ribut seperti pasar saja. Ajakan slamet masih tak hiraukan oleh bagas dan kembali lagi dia terdiam dalam lamunnya. Tiba-tiba ponsel di saku kemejanya bergetar seperti ada telfon entah dari siapa.  “Nanti kau susul aku dikantin bu darsinah ya gas, aku pergi duluan saja. Perutku sudah meronta hendak ingin diisi makanan gas. Jangan lupa kesana nanti ya gas?”.  “Iya oke met, aku mau menjawab telfon ini dulu ya”. Dengan tergesa-gesa dia mengambil ponsel dan di angkatnya sebuah panggilan itu. Rupanya penggilan telfon itu tak lain dan tak bukan dari ibunda tercintanya. Dengan berjalan cepat dia pergi menuju dekat lobi agar suara ibunya terdengar dengan jelas. Ibunya menanyakan bagaimana kabarnya, selama berminggu-minggu tak pernah memberi kabar kepada kel...

Cerita Satu dan lainnya

       Suatu malam ketiga minggu pertama di awal musim penghujan. Kabut telah turun menyelimuti jalan dengan membawa butiran uap air siap menyapu apa yang dilaluinya. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya seakan memecah kebisuaan malam. Terlihat beberapa manusia bersarung penunggu gubug tengah larut dalam perbincangan mereka. Dari atas atap surau seekor burung gagak seakan memberi pesan dengan suara dan tatapannya mengamati segerombolan manusia yang berada dalam gubug. Di satu rumah dekat surau. Dari kejauhan nampak cahaya remang menyinari salah satu ruangan rumah itu. Disana tengah terjaga seorang anak berumur awal dua puluhan. Seperti setiap malam sebelumnya, ia terlihat penuh khusuk menulis lanjutan cerita. Walau di tengah cahaya remang tak membuatnya bergeming untuk berhenti menulis. Ia seakan hapal beberapa saat lagi ibunya akan datang untuk menegur dan menyuruhnya menyalakan lampu utama kamar. Dan benar saja dugaan Marwan, Ibunya datang “Wan, lampu utama k...