Karta Bin Wirya alias Jikun pernah bercerita padaku tentang mimpi yang dialaminya selama tujuh hari tujuh malam. Sambil aku mengingat kembali. Entah dengan cara apa aku akan menceritakan cerita ku ini. Aku mengenal Jikun sudah hampir seperempet kehidupannku atau bahkan lebih dari itu. Bahwa manusia mempunyai jalan lain untuk menuju pada penghabisan segala dosa masa lalunya. Mungkin itu yang aku pikirkan saat ini tentang Jikun.
Sejak kecil aku mengenal dirinya seperti kebanyakan anak pada usianya. Tak banyak perbedaan kecuali sifat konyol dan bodohnya. Bahkan sampai saat ini aku tak pernah menyangka, bahwa ia akan pergi dengan cara seperti itu. Aku merasakan kehidupan pribadinya berubah saat kita beranjak dewasa. Setelah aku selesai kuliah. Saat ini aku menjadi pegawai swasta untuk bisa menyambung hidup serta mengirim sedikit uang kepada orang tuaku di desa. Aku mensyukuri akan hal itu walau tak seberapa. Namun tak ada hal lain yang bisa ku syukuri selain itu.
Cerita ini berawal beberapa hari setelah aku dinyatakan lulus tes tertulis ujian masuk universitas. Aku mendengar cerita bahwa teman semasa kecilku, Jikun tertangkap polisi dan tentunya meringkung di balik besi dinging berkarat. Entah dalam kasus apa ia bisa ditangkap, aku belum mengetahuinya dan aku baru mengetahui setelah ia mengatakannya semuanya padaku. Aku dikejutkan dengan berita di awal senin pagi yang menyebar luas bagai sebuah wabah mematikan dalam waktu singkat. Aku yakin Jikun tak pernah berbuat sebodoh itu walaupun kenyataannya dia memang bodoh. Tapi aku tak pernah beranggapan demikian kepadanya.
Aku membesuk kembali Jikun setelah ia dipindahkan ke lapas khusus narkoba. Setelah aku sampai kemudian menanyakan apakah benar ada nama tahanan bernama Jikun yang dipindahkan dari kota seminggu lalu seminggu yang lalu kepada penjaga penjara. “Tak ada nama Jikun nak, Jawab petugas penjara itu”
“Namanya Karta bin Slamet pak alias Jikun pak”
“Oh, kalau Karta memang ada nak, silahkan cepat, karena waktu besuk sebantar lagi akan habis”
Aku mendengar bunyi pintu sel terbuka dan akhirnya aku melihat wajahnya dari bilik ruang besuk. Ia terlihat berantakan, kumis dan jambangnya tampak belum ia cukur. Namun setelah melihat ku didepannya akhirnya ia tersenyum.
“Bagaiman keadaanmu, sobat?
“Kau bisa lihat aku tak lebih baik dari pada ini, sangat tak baik dan aku tak percaya bisa masuk kesini. Aku juga lupa belum bercukur, jadi aku terlihat berantakan bila kau lihat.”
“Haha iya benar apa katamu sobat. Maaf sobat, sebenarnya kenapa kau bisa masuk kesini? banyak kabar burung bahwa kau ini pengedar narkoba? aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu dan bukan dari ocehan tak jelas dari luar sana.”
“Aku bukan lah pengedar narkoba apalagi seorang kriminal. Tapi ini semua sudah terjadi diluar kehendak ku, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya dijebak atau lebih tepatnya dimanfaatkan oleh seseorang yang mungkin sekarang sedang tertawa di sana setelah berita aku tertangkap.”
“Kenapa kau tidak berkata sejujurnya saja sobat? Apa susahnya dengan berkata jujur bahwa kau dijebak oleh seseorang yang kau tak mengenalnya.”
“Aku sudah berkata tepat seperti itu kepada mereka, namun semua itu hanya sebuah elakan saja saat mereka mendengarnya. ‘Kau tak bisa mengelak, kau pemabuk dan seorang pengedar. Sidik jarimu ada di dalam bungkusan itu, kau tak bisa menyangkalnya sekarang’. Itulah kata mereka kepadaku. Aku ditemukan sedang tak sadarkan diri saat polisi menangkap ku di diskotik dekat pusat kota. Aku memang bodoh tapi aku tak sebodoh itu, aku pun tak pernah merasakan barang haram tersebut. Aku dijebak, sobat.” Beberapa saat setelah ia menjelaskan kejadian itu, ia menangis dan aku pun turut terbawa namun tak sampai menangis seperti dia.
“Maafkan aku sobat, bagaimana awal mula itu terjadi, aku ingin mendengarnya!”
“Awal mulanya aku mengenal seorang wanita saat aku bekerja dikota sebagai pegawai toko, ia berkenalan dan datang kepadaku beberapa hari sebelum kejadian laknat itu, dia seorang perempuan cantik, cantik sekali bila aku mengingat wajahnya namun sekarang wajah itu berubah memuakan. menjengkelkan dan menjijikan setiap kali ku ingat. Nama wanita itu Anita dan setelah aku sadar itu bukan lah nama aslinya. Dia mengajak ku pergi ke diskotik pada malam sial itu. Dia menjemputku di depan kost ku dengan membawa mobil sedan metalik baru. Aku yakin harganya mungkin setera dengan gaji ku bekerja selama dua puluh tahun atau bahkan lebih. Awalnya aku menolak untuk pergi ke diskotik dengannya. Takdir memang sebuah takdir tak bisa dielak. Setelah menuju diskotik dan memesan meja, aku dibawakan satu botol minuman, aku taksir harganya setara gajiku sebulan. Dia menyuruhku untuk meminumnya. Awalnya aku menolak karena aku tak pernah dan tak berani minum. Namun entah setan apa yang merasuki tubuhku akhirnya aku menenggak minuman setan itu. Ia berbisik kepada ku bahwa dia mencintai ku, dia butuh diriku dan dia tak mau aku pergi dari sisinya. Kau sayang juga padaku kan? jadi habiskan lah minuman ini demi diriku sayang. Dia berkata itu sesaat kemudian. Akhirnya aku menghabiskan minuman itu sampai tandas. Aku mulai pusing, dunia sekitar ku terasa berputar, melayang serta membayang. Aku mendengar dirinya mengangkat teleponnya, entah sedang berbicara dengan siapa. Kemudian dengan panik sembari berkata agak cepat ia menitipkan sebuah buntalan plastik hitam yang ia keluarkan kepadaku dalam tasnya. Ia kemudian berkata, aku titip sebentar ya sayang, aku mau ke toilet sebentar, nanti aku kesini lagi. Dia menyuruhku untuk memasukan buntalan itu kedalam jaket ku. Akhirnya aku masukan barang itu dengan bantuan dirinya, karena keadaanku sudah tak memungkin untuk bergerak. Setelah itu dia berlalu dan aku pun tertidur entah dalam beberapa waktu lamanya. Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan beberapa orang dan mengatakan mereka sebagai polisi. Aku samar mendengar suara itu dan tak lama setelah itu terdengar suara ‘Geledah semuanya’. Aku menoleh ke atas dan kemudian ujung pistol telah mengarah ke kepala ku. Dan berbicara ‘Aku menemukan pengedarnya’, entah itu suara ditunjukan kepada ku atau untuk orang disebalahku. Aku panik dan tak percaya. Kemudian aku tak sadarkan diri sambil menggenggam buntalan plastik didalam jaketku. Setelah aku membuka mata, aku dapati diriku berada dalam sel saat menjelang subuh, tentunya setelah aku disiram air agar aku bisa bangun.”
“Sobat, malang sekali nasib mu itu, aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya kau sekarang. Sebab karena seorang wanita cantik kau telah masuk dalam teralis besi ini. Aku tahu kau pasti sangat berat menerima ini.”
“Sudah lah sobat, aku pasti menyesal namun bagaimana lagi, semua kesaksian ku seolah tak ada artinya, aku tak bisa mengelaknya dan tak akan mungkin bisa. Kita ini orang kecil dan lemah dihadapan hukum Republik ini dan aku dipaksa untuk mengakui hal yang tak pernah ku lakukan ataupun terlintas untuk ku lakukan. Oh, iya sidang perdana ku akan di adakan dua minggu lagi. Dan tentunya semua pembelaanku tidak ada artinya. Aku sudah pasrah sobat, aku menerimanya sekarang.”
“Hai Karta alias Jikun aku tak bisa membiarkan ini menimpa dirimu sobat, aku tak sampai hati bila kau meringkuk lama di pesakitan ini.”
“Sudah lah sobat aku menerima ini. Ini salahku. Aku terlalu percaya pada pesona wanita palsu. Awalnya dia seperti bidadari bagiku dan setelah aku sadar ia berubah menjadi iblis jahanam. Aku tak berharap ada orang datang dalam persidangan ku sobat, hanya orang tua dan keluarga ku saja. Aku tak ingin banyak orang bersedih memikirkan diriku saat sidang nanti. Itu hanya membuat ku semakin tersiksa dengan keadaanku. Namun bila kau dan lainnya hadir pun tak apa. Asal jangan menangis di depanku. Itulah permintaanku kepada kau dan lainnya.”
“Aku usahakan semampuku, sobat dan pastinya aku akan menyampaikan seperti yang kau katakan kepadaku. Tak kurang atau dilebihkan akan aku sampaikan amanatmu kepada teman kita.”
“Aku harap tak mengahrap kau dan mereka menangis saat kalian hadir saat sidang perdanaku dua minggu lagi, jangan tanya kenapa, tapi semua demi kebaikan ku di sini sobat.” Kali ini aku tak bisa membendung air mata ku. “Ia sobat, akan aku sampaikan itu.” Beberapa saat kemudian petugas penjara memberi kode bahwa waktu jenguk telah usai.
“Sudah habis waktu jenguknya, aku pikir akan lebih lama lagi kita untuk berbicara, sobat”
“Jangan menangis sobat ku, dan ada permintaan satu lagi, setelah sidang perdana itu. Aku tak mau kau membesuk ku. Jangan tanya kenapa. Besuk lah aku setelah kau lulus kuliah, cukup kita bertulis surat saja. Itu lah beberapa permintaanku padamu sobat. Aku yakin hukumanku pasti lama”
“Baiklah sobat, aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti. Aku berpamitan dulu sobat, sampai jumpa Karta alias Jikun sobatku” Dengan melambaikan tangan serta senyuman ia berlalu masuk kembali kedalam dunia barunya. Entah sampai kapan.
Sebelum aku kembali pulang, aku menuju ke kamar kecil, bukan untuk kencing ataupun lainnya tapi untuk menangis. Iya, aku menangis bagaimana Jikun bisa menerima itu semua dengan sikap seperti itu, aku tak bisa membayangkan apabila semua itu menimpaku. Setelah aku mencuci muka kemudian aku berlalu keluar. Orang melihatku seakan bahagia dan berseri namun tentunya ada lubang besar menganga di dalam hatiku. Kenapa Jikun mampu sesabar itu menghadapi ini semua. Setelah sampai dirumah, salah satu temanku bertanya bagaimana keadaan Jikun dan aku menjawab sangat baik dan dia seperti tak memiliki masalah apapun dalam hidupnya. Aku berpesan seperti yang dikatan jikun padaku. Dan mereka pun menanggapinya dengan berbagai pandangan dan sikap. Namun akhirnya aku menjelaskan semua itu permintaan Jikun kepada kita semua.
Aku bertemu dengan dirinya pada sidang perdana. Aku melihat dirinya seperti orang aneh atau berbeda dari yang biasa ku kenal, Ia tersenyum saat kami datang saat persidangan. Aku berpikiran mungkin dia sengaja melakukan hal itu untuk menyembunyikan kesedihan dalam dirinya. Mungkin akan ada kejadian besar entah itu cepat atau lambat akan menimpa dirinya. Pikirku saat itu. Tapi itu mungkin anggapan ku saja, sebelum hal nyata itu terjadi.
Setelah sidang perdana, beberapa hari aku sudah berangkat ke kota untuk berkuliah. Aku menuliskan secarik surat perdana untuk Jikun. Sekedar menanyakan keadaan serta berkabar bahwa aku sudah mulai berkuliah dan aku merekomendasikan beberapa buku untuk dia baca saat waktu luang. Aku menulis surat itu dan berkata bahwa aku sangat kagum dengan dirinya yang mampu menerima semua takdirnya. Aku berjanji kepada Jikun untuk menulis surat setiap satu bulan sekali atau bahkan perlu dua kali setiap bulan. Setelah beberapa minggu aku menerima balasan surat darinya.
“Kabar ku baik dan tak kurang satu apapun, sobat ku. Sekarang aku jauh lebih dekat dengan Tuhan. Sudah rajin salat, puasa dan saat malam, aku bukan bermaksud monyombongkan diri, tidak dan tak akan pernah. Aku sadar bahwa diriku adalah tetap Karta alias Jikun yang dahulu kau kenal tanpa berubah sedikit pun. Aku disini sebagaimana orang menjalani kehidupan pada umumnya. Aku tak merasa sedih ataupun nelangsa karena jauh disini ada yang lebih buruk daripada kata-kata itu, sobat. Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih menderita dibandingkan diriku. Aku juga mulai belajar bagaimana menulis catatan harian, tentunya aku membaca buku-buku yang kau rekomendasikan kepadaku kemarin. Aku membaca pelan-pelan dan mempraktikannya dengan secarik kertas putih di perpustakaan penjara yang baru saja dibuka beberapa minggu lalu. Dan teman satu sel ku pun memujiku dengan kagum untuk perkembangan cepatku dalam menulis. Tak ada hal yang aku anggap suatu kebahagian ketimbang bisa berjumpa dengan keluarga serta sahabat ku sekarang. Namun untuk saat ini aku merasa bahagia walaupun juga terkadang bayangan nestapa akan tempat ini selalu menghantuiku. Tapi dunia selalu ada untuk ditertawakan dan menertawakan adalah hal yang mengasikan bagiku, Aku menulis balasan suratmu selama tiga hari penuh kehati-hatian. Kali ini aku mempunyai sebuah permintaan lagi kepada mu, sobatku. Permintaanku adalah untuk menitipkan keluarga ku kepada mu. Entah ini suatu firasat atau apapun namanya. Mungkin sebentar lagi aku akan pergi seperti mimpi yang datang kepadaku tujuh hari berturut-turut. Dan itu sangat membosankan bila ku ingat kembali. Aku bermimpi terbang menuju hamparan hijau nan sejuk dan langitnya berwarna putih cerah. Aku tak tahu apa arti mimpi itu. Namun aku sudah siap dengan semua takdirku dikemudian hari nanti. Aku cukupkan surat ini dan tolong permintaan ku mungkin kali ini sebagai yang terakhir untukmu sobatku. Terima Kasih. Dari teman terbaikmu. Karta bin Wirya alias Jikun.
Setelah selesai membaca surat itu dengan tak percaya dan berkaca-kaca, entah kenapa aku menyalakan televisi dan tak berapa lama kemudian ada berita terbaru bahwa telah terjadi kerusuhan dipenjara narkoba. Ada nama Karta alias Jikun yang menjadi korban. Ia tertusuk dan kehabisan darah karena menyelamatkan temannya saat kerusuhan terjadi. Setelah melihat berita dilayar televisi. Aku membaca kembali surat dari Karta alias Jikun dengan pelan dan teliti. Kali ini aku benar-benar menangis tak tertahan. Air mata telah menetes dikertas putih bertinta hitam itu.
2 April 2018
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus