Muhammad Sobri dan Khotidjah adalah nama oran tua bagas. Dalam silsilahnya, buyut kelurga bapak dan ibunya adalah garda terdepan penyebar agama terkemuka di desa. Maka tak ayal bila dari kecil bagas sudah akrab dengan kehidupan pondok pesantren yang didirikan buyutnya. Dan diteruskan oleh keluarga bapak dan ibunya, hingga sampai sekarang. Bila ditelusuri dari cerita bapak kyai sobri, buyutnya belajar agama sampai ke hadramaut tepatnya kota Tarim jauhnya. Negeri subur di antara Yaman dan Oman. Tak terlalu jauh dari makam Nabi Hud atau dikenal dengan nama Syi’ib Hud sekitar 80 km dari kota Tarim. Dan kerap juga disebut ‘Kota Sejuta Wali’. Jarak bukan sebuah hambatan namun ke-istiqomahan dan panggilan Tuhan membuat buyutnya sangat gigih untuk mendampatkan serta mengamalkan ilmu agama. “Ilmu yang sudah kita dapatkan, harus diturunkan kepada siapapun sebagai amal kita kepada sesama”. Itu pesan buyut kita gas soal ilmu. Ketika bagas mengingat lagi perkataan bapaknya. Kyai Sobri.
Santri di pasentren ini tak mengenal perbedaan. Semua boleh menjadi santri. Entah itu anak yatim, piatu, bekas ini atau pun itu. Yang terpenting adalah kemauan untuk berubah dan niat untuk berhijrah menjadi lebih baik lagi. Bagaimana bagas kecil tumbuh dalam lingkungan pesantren seperti itu. Sulit untuk terlupakan dalam hidupnya. Dia belajar rasa kasih sayang, tulus untuk mengerti bahwa kehidupan diciptakan Tuhan bukan tanpa sebab. Bukan tanpa alasan. Bahwa hidup adalah mengalir, melangkah secara presisi, di tengah, seimbang dan tak boleh goyah atau goyang bila sudah melangkah. Tak boleh mundur bila sudah maju. Kecuali memang Tuhan menyuruh kita mundur. Sudah banyak peristiwa yang di alami bagas setiap ada santri baru mesti ada santri pergi. Bagai pertemuan berjodoh dengan perpisahan, kelahiran dengan kematian, terbit dengan tenggelam, ada dengan tiada, kegembiraan dengan kesedihan. Semua sudah menjadi sabda alam.
Dari sekian banyak pengalaman semasa dirinya hidup berdampingan dengan banyak orang. Satu pengaalaman yang tak bisa bagas lupakan. Suatu waktu datang lah seorang santri baru bernama Parman. Dia di antar oleh kedua orang tuanya untuk dititipkan kepada Bapak Kyai Sobri.
“Pak Yai, mohon maaf bila kedatangan saya beserta istri dan anak saya parman menganggu waktu pak yai beristirahat. Pak yai saya mohon anak saya parman, tolong untuk di bantu atau apapun namanya agar anak ini bisa menjadi normal seperti kebanyakan anak lainnya!”.
“Tak usah memanggil saya dengan embel-embel belakang yai pak. Sobri saja. Sekali lagi kedatangan bapak beserta istri dan anak kalian bernama parman sama sekali tak ada hal aneh ataupun tabu lainnya. Mohon maaf bapak ibu parman, kenapa dan apa yang salah dengan anak bapak ibu parman ini? dari tadi dia diam dan sepertinya senang saja ketika disini?”
“Syukur lah pak sobri, terima kasih banyak telah menerima kami. Nah itu masalahnya pak yai, saya dan istri saya juga heran kenapa anak ini sekarang menjadi pendiam dan tampak senang ketika tiba di pesantren ini. Sebelumnya Parman ini kalau melihat orang di dekat rumah terkadang tertawa sendiri, marah-marah dan acap kali memaki orang lain. Bahwakan tempo hari parman babak belur di beri bogem mentah dari preman pasar dekat rumah. Sungguh pak dan bu yai saya dan istri saya bingung, sedih dan juga takut bila kami tinggal ke ladang untuk bertanam ataupun sekedar menunggui ladang kami”.
“Mohon maaf sebelumnya, apakah bapak dan bu sudah menanyakan kepada parman perihal kenapa dia bisa tertawa, marah-marah dan memaki orang lain?
“Sudah pak yai, namun jawaban yang di dapat dari parman sangat mengejutkan dan tak masuk akal pak yai”
“apa itu kalau boleh saya tahu pak?, Oh ya sampai lupa. Gas tolong buatkan minuman dan makanan untuk bapak ibu dan parman ya gas”
Aku yang daritadi mendegar percakapan antara bapak dan bapak ibu parman itu juga sampai lupa untuk membuatkan dan membawakan minuman untuk tamu.
“Oh, iya pak”. Jawabku penuh takzim.
Sambil membuat minuman dan mempersiapkan makanan aku tanpa sengaja mendengar percakapan bapak dan orang tua parman dari dalam dapur. Dan anehnya kali ini parman dengan wajah berseri serta mantap berkata “Pak bu, entah kenapa parman kerasan tinggal disini. Seperti sudah sering kemari padahal parman tahu kalau parman baru pertama kali disini. Di tempat ini wajah semua orang tak berubah bahkan seperti yang parman sering lihat. Dan parman mendengar kata hati mereka semuanya tak ada kesumbangan dan baik bila ku dengar, apalagi wajah bapak kyai sobri. Penuh teduh sembari bersinar dan pitutur hatinya tulus, penuh kasih, selalu bertasbih serta cinta kepada Tuhan dan tanpa pamrih. Aku mendengar kata hati anak bapak kyai sobri, penuh cinta serta tulus padaku. Wajah dan matanya teduh ku pandang daritadi. Lain seperti tetangga, teman dan para preman pasar dekat rumah kita itu pak bu”. Bagas mendengar jelas perkataan parman karena dapur dan tempat menerima tamu hanya terpisah bilik anyaman bambu. “Itu lah pak kyai sobri keadaan anak saya yang sebenarnya”. Dan, kemudian pecah lah suara tangis ibu dan bapak parman. Setelah memberi tahu kan keadaan anaknya. Bagas pun tertegun. Tak sampai beberapa detik bapak kyai sobri berbicara pelan penuh ramah meredakan kesedihan bapak ibu parman.
Dengan membungkuk bagas keluar dari dapur guna menyuguhkan minuman dan makanan kepada tamu terhormat pak kyai sobri. “Silahkan pak bu dan parman. Ini makanan dan minuman” Kata parman pelan penuh ramah dan rikuh akan suasana di depan matanya. “Hey kau anaknya pak kyai sobri, mau kah kau menjadi temanku?”. Tanya parman kepada bagas memecah suasana. Bapak kyai sobri serta bapak ibu parman seketika melihat ke arah bagas. Dengan anggukan serta senyuman bagas berkata “Tentu saja aku mau man. Dengan senang hati”.
7 November 2017
Komentar
Posting Komentar